Terminal Banyuasri Singaraja, Pusat Transportasi yang Masih Punya Peran Penting

Kalau membicarakan transportasi umum di Singaraja, nama Terminal Banyuasri hampir pasti tidak bisa dilewatkan. Terminal yang berada di kawasan Banyuasri, Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, ini sudah lama menjadi salah satu titik penting pergerakan masyarakat menggunakan angkutan umum.

Namun, ada hal menarik mengenai Terminal Banyuasri. Status dan fungsi terminal ini ternyata mengalami perjalanan yang cukup panjang. Terminal yang dalam sejumlah dokumen tata ruang daerah pernah dicatat sebagai terminal tipe A, dalam operasional pemerintah daerah juga pernah disebut sebagai terminal tipe C. Bahkan, terminal ini sempat kehilangan fungsi utamanya karena digunakan sebagai lokasi pasar sementara.

Kini, setelah fungsi terminal dikembalikan, keberadaannya kembali menjadi bagian dari sistem transportasi Kota Singaraja.

Terminal Banyuasri Berada di Mana?

Terminal Banyuasri berada di kawasan Banyuasri, Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali. Lokasinya cukup strategis karena berada di kawasan perkotaan Singaraja dan berdekatan dengan pusat aktivitas masyarakat.

Banyuasri sendiri bukan kawasan yang asing bagi warga Singaraja. Selain dikenal sebagai kawasan pasar, wilayah ini juga menjadi salah satu titik aktivitas ekonomi dan transportasi yang cukup ramai.

Dalam dokumen Rencana Detail Tata Ruang Kota Singaraja, Terminal Banyuasri ditempatkan sebagai salah satu simpul transportasi di kawasan perkotaan Singaraja. Dokumen tersebut menyebut Terminal Banyuasri sebagai terminal tipe A dan menyatakan lokasinya berada di Sub BWP C Blok 5.

Tetapi, ketika melihat kondisi dan pengelolaan aktualnya, persoalannya memang tidak sesederhana label tipe terminal di atas kertas.

Sempat Berubah Fungsi Menjadi Pasar

Salah satu cerita penting dalam perjalanan Terminal Banyuasri adalah ketika terminal ini sempat digunakan sebagai lokasi pasar sementara.

Hal tersebut terjadi ketika Pasar Banyuasri menjalani proses revitalisasi. Pemerintah kemudian menggunakan kawasan terminal sebagai lokasi aktivitas pasar sementara.

Akibatnya, fungsi terminal sebagai tempat kendaraan umum menaikkan dan menurunkan penumpang menjadi tidak optimal.

Kondisi tersebut berlangsung sampai kemudian revitalisasi Pasar Banyuasri selesai.

Pada 30 Maret 2021, bersamaan dengan peresmian operasional Pasar Banyuasri, fungsi Terminal Banyuasri dikembalikan. Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng menyebut bahwa sebelumnya kawasan tersebut digunakan sebagai pasar tumpah selama proses revitalisasi Pasar Banyuasri.

Pengembalian fungsi tersebut tentu penting.

Bagaimanapun juga, terminal bukan sekadar lahan kosong tempat bus berhenti. Terminal merupakan bagian dari sistem transportasi yang seharusnya membantu mengatur pergerakan kendaraan umum sekaligus memberikan tempat yang jelas bagi masyarakat untuk naik dan turun kendaraan.

Kondisi Terminal Banyuasri Saat Ini

Untuk memahami kondisi Terminal Banyuasri sekarang, kita perlu melihatnya dari dua sisi.

Pertama adalah fungsi fisik dan operasionalnya.

Kedua adalah status serta rencana pengembangannya.

Dari sisi operasional daerah, Terminal Banyuasri telah dikembalikan kepada fungsi transportasi. Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng menyebut terminal tersebut melayani beberapa trayek angkutan kota dan angkutan desa. Terminal juga dapat dimanfaatkan sebagai kantong parkir yang mendukung aktivitas Pasar Banyuasri.

Artinya, Terminal Banyuasri tidak benar-benar mati.

Terminal ini masih memiliki fungsi transportasi, terutama untuk angkutan umum lokal dan aktivitas masyarakat di kawasan sekitarnya.

Namun, jika dibandingkan dengan gambaran sebuah terminal bus modern yang menjadi pusat keberangkatan banyak bus antarkota dengan volume penumpang tinggi, kondisinya tentu berbeda.

Ini merupakan salah satu tantangan yang juga terjadi di berbagai terminal di Indonesia.

Masalah Utama: Aktivitas Bus Tidak Selalu Tinggi

Terminal pada dasarnya akan hidup kalau masyarakat menggunakan angkutan umum.

Kalau jumlah penumpang turun, operator bus berkurang, atau masyarakat lebih memilih kendaraan pribadi, terminal otomatis ikut sepi.

Masalah seperti ini bukan hanya terjadi di Banyuasri.

Evaluasi terhadap terminal tipe A di Indonesia menunjukkan bahwa pemanfaatan sejumlah terminal masih belum optimal. Salah satu persoalannya adalah rendahnya intensitas kendaraan dan penumpang yang menggunakan terminal sebagai tempat asal maupun tujuan perjalanan.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi terminal di kota-kota daerah, termasuk Singaraja.

Masyarakat sekarang mempunyai pilihan transportasi yang jauh lebih banyak dibandingkan beberapa puluh tahun lalu.

Sepeda motor semakin mudah dimiliki. Mobil pribadi juga semakin banyak. Selain itu, muncul berbagai layanan transportasi berbasis aplikasi dan layanan travel yang menawarkan sistem antar-jemput langsung.

Akibatnya, terminal konvensional harus bersaing dengan pola perjalanan yang lebih fleksibel.

Bukan Berarti Terminal Tidak Penting

Meski aktivitas bus tidak selalu seramai terminal besar di Pulau Jawa, bukan berarti Terminal Banyuasri sudah tidak diperlukan.

Justru terminal mempunyai fungsi yang cukup penting dalam sistem transportasi perkotaan.

Bayangkan kalau semua kendaraan umum bebas menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat.

Di kawasan yang padat, kondisi tersebut bisa menimbulkan masalah.

Kendaraan berhenti di bahu jalan. Penumpang menunggu di pinggir jalan. Angkutan umum berhenti mendadak. Kendaraan lain harus mengurangi kecepatan. Akhirnya lalu lintas menjadi tidak teratur.

Terminal memberikan ruang khusus untuk aktivitas tersebut.

Karena itu, keberadaan Terminal Banyuasri tetap relevan, terutama untuk mendukung transportasi umum di Singaraja dan wilayah Buleleng.

Trayek yang Berkaitan dengan Singaraja

Sistem transportasi Buleleng sebenarnya mempunyai jaringan trayek yang cukup luas.

Dalam kajian sistem jaringan transportasi Buleleng, terdapat sejumlah rencana trayek AKAP, AKDP, angkutan perkotaan dan angkutan perdesaan.

Untuk angkutan antarkota antarprovinsi, kajian tersebut mencantumkan trayek Singaraja–Malang dan Singaraja–Surabaya.

Sementara untuk angkutan antarkota dalam provinsi terdapat beberapa hubungan perjalanan dari Singaraja menuju Denpasar, Bangli, Amlapura, Semarapura, Negara, Seririt dan sejumlah wilayah lainnya.

Jaringan seperti ini menunjukkan bahwa Singaraja mempunyai posisi penting sebagai pusat aktivitas transportasi di Bali bagian utara.

Persoalannya bukan hanya bagaimana membangun terminal.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana membuat jaringan angkutan umum tersebut benar-benar digunakan masyarakat.

Sejarah Panjang Terminal Banyuasri

Terminal Banyuasri bukan terminal yang baru dibangun beberapa tahun terakhir.

Keberadaannya sudah lama menjadi bagian dari sistem transportasi Singaraja.

Dokumen tata ruang Kabupaten Buleleng bahkan mencatat Terminal Banyuasri sebagai terminal penumpang tipe A yang berada di kawasan perkotaan Singaraja.

Dalam dokumen tersebut juga terdapat rencana untuk melakukan relokasi Terminal Banyuasri melalui pembangunan terminal baru, dengan lokasi yang akan ditentukan berdasarkan kajian.

Hal ini menarik karena menunjukkan bahwa sejak lama pemerintah sebenarnya sudah melihat adanya persoalan mengenai lokasi dan pengembangan terminal.

Dengan kata lain, pembicaraan mengenai masa depan Terminal Banyuasri bukanlah sesuatu yang baru.

Apakah Terminal Banyuasri Akan Dipindahkan?

Pertanyaan ini cukup menarik.

Jawabannya perlu hati-hati.

Memang terdapat dokumen perencanaan Kabupaten Buleleng yang mencantumkan rencana relokasi Terminal Banyuasri dengan membangun terminal baru setelah dilakukan kajian.

Namun, adanya rencana dalam dokumen tata ruang tidak otomatis berarti relokasi sudah terlaksana.

Karena pembangunan terminal baru membutuhkan kajian lokasi, ketersediaan lahan, anggaran, akses jalan, kebutuhan transportasi dan berbagai pertimbangan lainnya.

Jadi, untuk kondisi saat ini, Terminal Banyuasri tetap perlu dilihat sebagai terminal yang masih mempunyai fungsi operasional, sementara rencana pengembangan atau relokasi merupakan bagian dari perencanaan transportasi jangka panjang.

Terminal Banyuasri dan Pasar Banyuasri

Ada hubungan yang cukup unik antara terminal dan pasar di kawasan ini.

Sebelumnya terminal pernah digunakan untuk mendukung aktivitas pasar sementara. Setelah Pasar Banyuasri kembali beroperasi, terminal dikembalikan kepada fungsi transportasi.

Tetapi kawasan terminal juga masih dapat memberikan dukungan terhadap kegiatan pasar, terutama dalam hal parkir.

Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng secara khusus menyebut bahwa Terminal Banyuasri dapat menjadi kantong parkir penunjang operasional Pasar Banyuasri.

Jadi, terminal dan pasar sebenarnya bisa berjalan berdampingan.

Yang penting adalah pembagian fungsi kawasan harus jelas.

Jangan sampai aktivitas perdagangan kembali mengambil alih fungsi utama terminal.

Tantangan Transportasi di Singaraja

Singaraja merupakan salah satu kota penting di Bali bagian utara.

Sebagai pusat Kabupaten Buleleng, kota ini menjadi tujuan masyarakat dari berbagai kecamatan di sekitarnya.

Karena itu, kebutuhan terhadap transportasi umum sebenarnya tetap ada.

Yang menjadi persoalan adalah bagaimana sistem tersebut dibuat menarik bagi masyarakat.

Terminal yang bagus saja tidak cukup.

Kalau busnya jarang, masyarakat tidak akan mau menunggu.

Kalau jadwal tidak jelas, masyarakat akan memilih kendaraan pribadi.

Kalau lokasi terminal sulit dijangkau, penumpang akan mencari alternatif lain.

Kalau kendaraan umum tidak nyaman, masyarakat juga akan berpikir dua kali untuk menggunakannya.

Jadi persoalan terminal sebenarnya merupakan bagian dari persoalan sistem transportasi secara keseluruhan.

Perlunya Integrasi dengan Angkutan Lokal

Salah satu cara membuat terminal kembali ramai adalah dengan memperkuat koneksi antara terminal dan kawasan permukiman.

Misalnya seseorang dari Kecamatan Sukasada ingin pergi ke luar Buleleng.

Tidak semua orang mempunyai kendaraan yang bisa mengantarkan langsung ke terminal.

Maka diperlukan angkutan pengumpan atau feeder.

Penumpang bisa naik angkutan lokal dari kawasan tempat tinggalnya menuju Terminal Banyuasri. Dari terminal tersebut, penumpang kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan bus antarkota.

Konsep seperti ini sebenarnya sejalan dengan fungsi terminal modern.

Terminal tidak berdiri sendiri.

Ia harus menjadi bagian dari jaringan transportasi yang saling terhubung.

Terminal Modern Tidak Sekadar Tempat Bus Berhenti

Perkembangan terminal di Indonesia juga mulai mengarah pada konsep yang lebih modern.

Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menyebut modernisasi terminal tipe A antara lain mencakup integrasi dengan moda transportasi lain, pembentukan zonasi, pemisahan alur kendaraan dan penumpang, serta penggunaan teknologi informasi.

Artinya, terminal masa depan seharusnya tidak hanya berupa gedung dengan halaman luas.

Terminal harus memberikan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman.

Penumpang datang, membeli tiket, menunggu kendaraan, mendapatkan informasi jadwal, naik kendaraan dan melanjutkan perjalanan dengan sistem yang jelas.

Kalau memungkinkan, berbagai layanan publik juga dapat diintegrasikan di dalam kawasan terminal.

Potensi Terminal Banyuasri ke Depan

Kalau dikembangkan dengan serius, Terminal Banyuasri sebenarnya memiliki peluang yang cukup besar.

Singaraja mempunyai posisi strategis sebagai pintu transportasi Bali bagian utara.

Perjalanan menuju Denpasar, Jawa Timur dan berbagai daerah di Bali utara dapat dikembangkan melalui sistem transportasi yang lebih terintegrasi.

Terminal Banyuasri juga dapat menjadi titik penghubung antara angkutan lokal dan bus antarkota.

Potensi lainnya adalah pengembangan kawasan transit.

Terminal bisa dikombinasikan dengan pusat kuliner, ruang tunggu yang nyaman, minimarket, layanan publik, area parkir, fasilitas informasi wisata dan fasilitas pendukung lainnya.

Dengan konsep seperti ini, orang tidak lagi melihat terminal sebagai tempat yang kumuh dan hanya digunakan ketika hendak naik bus.

Terminal bisa menjadi bagian dari pusat aktivitas kota.

Bagaimana dengan Bus AKAP?

Salah satu indikator penting keberhasilan sebuah terminal adalah jumlah kendaraan dan penumpang yang benar-benar menggunakan terminal.

Bus AKAP mempunyai peran penting dalam menghubungkan Bali dengan daerah lain di Pulau Jawa.

Singaraja memiliki hubungan historis dan ekonomi dengan berbagai kota di Jawa.

Dalam kajian jaringan transportasi Buleleng, trayek Singaraja–Malang dan Singaraja–Surabaya termasuk dalam rencana jaringan AKAP.

Namun, keberadaan trayek di dalam dokumen perencanaan tidak selalu berarti semua layanan tersebut beroperasi dengan frekuensi yang sama setiap hari.

Karena itu, calon penumpang tetap perlu mengecek jadwal dan operator sebelum berangkat.

Mengapa Terminal Bisa Sepi?

Ada beberapa alasan yang biasanya membuat terminal kehilangan penumpang.

Pertama, masyarakat semakin banyak memiliki kendaraan pribadi.

Kedua, angkutan umum lokal belum tentu mempunyai jadwal yang pasti.

Ketiga, layanan travel menawarkan sistem antar-jemput dari rumah.

Keempat, sebagian bus atau kendaraan umum terkadang lebih memilih menaikkan penumpang di lokasi yang dianggap lebih strategis.

Kelima, akses menuju terminal bisa menjadi pertimbangan bagi penumpang.

Keenam, kenyamanan terminal juga sangat berpengaruh.

Kalau masyarakat merasa lebih nyaman menunggu kendaraan di tempat lain, terminal akan semakin kehilangan aktivitas.

Terminal Banyuasri Masih Dibutuhkan

Melihat perjalanan Terminal Banyuasri, kesimpulannya cukup jelas.

Terminal ini memang menghadapi tantangan.

Namun bukan berarti keberadaannya sudah tidak diperlukan.

Sebaliknya, Terminal Banyuasri masih memiliki posisi penting dalam sistem transportasi Singaraja.

Setelah sempat digunakan sebagai pasar sementara, fungsi terminal telah dikembalikan. Pemerintah Kabupaten Buleleng juga masih menempatkan terminal ini dalam dokumen perencanaan transportasi dan tata ruang.

Yang menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana meningkatkan pemanfaatannya.

Terminal harus dibuat lebih mudah dijangkau.

Angkutan pengumpan perlu diperkuat.

Jadwal kendaraan harus lebih jelas.

Informasi perjalanan harus mudah diperoleh.

Fasilitas penumpang harus dirawat.

Dan yang tidak kalah penting, operator angkutan umum harus benar-benar diarahkan untuk menggunakan terminal sebagai titik keberangkatan dan kedatangan.

Masa Depan Terminal Banyuasri

Masa depan Terminal Banyuasri sangat bergantung pada bagaimana pemerintah melihat transportasi umum di Singaraja dalam beberapa tahun ke depan.

Kalau transportasi umum ingin dikembangkan, terminal harus mendapatkan perhatian.

Bukan hanya dari sisi bangunan, tetapi juga dari sisi sistem.

Terminal yang bagus tetapi tidak ada bus tentu tidak akan menyelesaikan masalah.

Sebaliknya, banyak bus tetapi terminal tidak nyaman juga akan membuat masyarakat enggan menggunakannya.

Keduanya harus berjalan bersama.

Perencanaan relokasi yang pernah tercantum dalam dokumen tata ruang juga perlu dikaji secara matang apabila kembali menjadi prioritas. Lokasi terminal baru harus benar-benar mempertimbangkan pola perjalanan masyarakat, perkembangan kota, akses jalan dan konektivitas dengan angkutan umum lainnya.

Jangan sampai terminal baru justru berada terlalu jauh dari pusat aktivitas masyarakat.

Kesimpulan

Terminal Banyuasri Singaraja masih mempunyai fungsi penting sebagai salah satu simpul transportasi di kawasan Kota Singaraja.

Perjalanannya cukup panjang. Terminal ini pernah mengalami perubahan fungsi ketika kawasan tersebut digunakan untuk mendukung aktivitas Pasar Banyuasri selama masa revitalisasi. Setelah Pasar Banyuasri kembali beroperasi, fungsi terminal dikembalikan pada 2021.

Di sisi lain, dokumen tata ruang Buleleng menunjukkan bahwa pemerintah pernah merencanakan relokasi dan pembangunan terminal baru melalui kajian lebih lanjut.

Jadi, kondisi Terminal Banyuasri saat ini lebih tepat dipahami sebagai terminal yang masih berfungsi, tetapi menghadapi tantangan dalam optimalisasi pemanfaatan dan pengembangan jangka panjang.

Bagi Singaraja, terminal ini sebenarnya bisa menjadi lebih dari sekadar tempat bus berhenti.

Jika dikelola dengan konsep transportasi modern, terintegrasi dengan angkutan lokal, memiliki jadwal yang jelas, fasilitas yang nyaman dan didukung operator angkutan umum, Terminal Banyuasri berpeluang menjadi salah satu pusat transportasi penting Bali bagian utara.

Dan pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah terminal bukan hanya seberapa megah bangunannya.

Ukuran sebenarnya adalah seberapa banyak masyarakat yang merasa terbantu dan memilih menggunakan terminal tersebut untuk melakukan perjalanan.

Catatan untuk publikasi: artikel ini sengaja ditulis ulang dengan struktur dan narasi orisinal. Namun, tidak ada cara yang bisa menjamin sebuah artikel “lolos plagiarisme” atau “tidak terdeteksi AI” 100%; yang dapat dilakukan adalah menghasilkan tulisan baru, informatif, natural, dan tidak menyalin sumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *