Melansir situs https://ceritadongeng.id/ tentang cerita dongeng, berikut ini artikel tentang membaca di atas roda. Jakarta pagi itu diguyur gerimis yang malu-malu. Udara terasa lembap dan dingin, berbeda dengan biasanya yang panas menyengat. Aku berdiri di Terminal Kampung Melayu, menunggu bus kota jurusan Tanah Abang. Di tangan kiriku tergenggam sebuah buku tua yang baru kudapat dari lapak loakan minggu lalu—Cerita Rakyat Betawi: Dari Si Pitung hingga Macan Kemayoran. Buku bersampul kuning pudar itu tampak lusuh, tapi aroma kertas lamanya seperti memanggil kenangan yang tak kuketahui pernah kumiliki.
Perjalanan dengan Membaca buku verita di atas Roda
Bus datang, sedikit lambat dan tua, cat birunya mulai mengelupas di beberapa sudut. Tapi di tengah kesibukan ibukota, kendaraan seperti ini adalah ruang refleksi yang tersembunyi. Aku masuk dan duduk di dekat jendela, tempat favoritku setiap kali bepergian. Dari situ, aku bisa menyaksikan wajah Jakarta yang terus berubah: toko-toko yang digusur, bangunan tua yang diratakan, serta wajah-wajah orang yang seperti tergesa-gesa mengejar sesuatu, entah apa.
Bus mulai bergerak. Aku membuka halaman pertama buku dan segera tenggelam dalam dunia yang berbeda—dunia Betawi tempo doeloe, di mana pendekar dan rakyat jelata hidup berdampingan dengan legenda.
Si Pitung: Jagoan dari Rawa Belong
Cerita pertama adalah tentang Si Pitung, nama yang sudah lama kudengar tapi tak pernah benar-benar kupahami. Ia bukan sekadar jagoan, tapi lambang perlawanan terhadap ketidakadilan. Di masa penjajahan Belanda, ketika rakyat miskin ditekan dan harta mereka dirampas, muncul sosok dari Rawa Belong yang membela mereka. Konon, Pitung belajar silat dari Haji Naipin dan punya ilmu kebal. Ia mencuri dari tuan tanah dan kompeni untuk diberikan kembali pada rakyat.
Saat membacanya, aku melihat bayangan Si Pitung di benakku: tubuh tegap, kain sarung disampirkan di pinggang, langkah cepat, dan tatapan tajam. Bus melaju melewati Kramat Jati, dan entah mengapa, aku membayangkan Pitung meloncat di atap-atap rumah petak, dikejar Belanda, tapi tak pernah bisa ditangkap karena kelincahannya dan kecerdasannya.
Percakapan Singkat yang Menghangatkan
Di halte Salemba, seorang bapak tua naik dan duduk di sebelahku. Ia mengenakan peci hitam dan membawa tas kain. Matanya melirik bukuku, lalu tersenyum.
“Si Pitung, ya?” tanyanya ramah.
“Iya, Pak. Seru banget ceritanya,” jawabku.
“Jagoan Betawi itu. Dulu kakek saya suka ceritain sambil ngopi sore. Tapi bukan cuma dia, banyak jagoan lain, lho.”
“Bapak punya cerita favorit?” tanyaku.
“Macan Kemayoran. Tapi nanti dulu, baca aja dulu. Rasain suasananya.”
Percakapan singkat itu lebih hangat dari kopi pagi. Ada rasa yang mengendap: bahwa cerita-cerita ini bukan sekadar dongeng, tapi warisan, benang-benang yang menyatukan generasi.
Murtado Macan Kemayoran: Pendekar yang Bisa Jadi Harimau
Halaman demi halaman berlalu. Kini aku sampai pada kisah Murtado Macan Kemayoran, pendekar sakti yang konon bisa berubah menjadi harimau. Ia bukan sembarang jagoan, tapi guru agama, penjaga kampung, dan pembela rakyat kecil dari para preman dan tuan tanah serakah. Dikisahkan, suara auman harimau sering terdengar di malam hari di Kemayoran, tapi tak pernah ditemukan wujudnya—hanya jejak kaki besar di tanah becek.
Membaca kisah ini saat bus melintasi daerah Gunung Sahari memberikan sensasi unik. Dulu daerah ini mungkin masih berupa hutan dan rawa, tempat Murtado berkeliaran dengan langkah tenang, siap menghadapi siapa pun yang berlaku zalim. Kini, hanya gedung dan suara klakson yang tersisa, tapi cerita tetap hidup dalam buku yang kugenggam.
Si Jampang: Pendekar Parung yang Berani dan Jenaka
Bus melambat di perempatan Cideng. Macet. Tapi aku tidak kesal. Kemacetan adalah jeda yang membolehkan halaman demi halaman mengalir lebih lama.
Kini aku membaca tentang Si Jampang, jagoan dari Parung yang terkenal dengan gaya ceplas-ceplosnya. Ia suka berkelahi tapi hatinya lembut. Seperti Robin Hood versi Betawi yang suka membantu anak yatim, melawan para jawara sewaan, dan sesekali menggoda Mpok-Mpok cantik di kampung sebelah. Ceritanya ringan tapi penuh pesan moral.
Di balik gaya jenaka dan khas Betawi, Si Jampang menyimpan semangat pemberontakan yang halus: melawan ketidakadilan dengan keberanian dan kelakar. Aku tersenyum membacanya, membayangkan bagaimana ia bisa membuat warga kampung tertawa sekaligus terlindungi.
Akhir Perjalanan, Awal Perenungan
Bus akhirnya sampai di Tanah Abang. Penumpang mulai beranjak turun. Aku menutup buku dengan hati yang penuh. Di halaman terakhir, ada satu kutipan yang menempel erat di ingatanku:
“Cerita ini hidup karena diceritakan, bukan disimpan.”
Aku turun dari bus dengan langkah ringan. Jakarta tetap ramai, padat, dan sesak, tapi di kepalaku, aku baru saja menyusuri hutan Kemayoran, berlari bersama Si Pitung, dan tertawa bersama Si Jampang. Cerita-cerita rakyat Betawi mengajarkanku bahwa dalam deru roda dan debu jalan, sejarah dan budaya tetap bisa hidup, selama kita mau membuka buku dan membacanya.
Esok, mungkin aku akan naik bus yang lain. Membawa buku yang sama, atau mungkin buku baru. Tapi satu hal pasti—di atas roda, cerita-cerita itu kembali berdenyut, menembus kebisingan kota, menuju hatiku yang diam-diam rindu pada masa lalu yang sederhana, tapi penuh makna.






