Kalau kamu tinggal di sekitar Ciledug, Tangerang, dan sering bepergian naik bus antar kota, pasti nggak asing sama yang namanya Terminal Pasar Lembang. Terminal ini memang bukan terminal megah kayak Pulogebang atau Kampung Rambutan Terminal, tapi jangan salah—urusan fungsionalitas dan kesibukan, tempat ini bisa dibilang kecil-kecil cabe rawit. Berikut ini ulasan terkini Terminal Bus AKAP Pasar Lembang Ciledug,
Lokasi: Di Tengah Riuhnya Pasar, Dekat dari Mana Aja
Terminal Pasar Lembang ini letaknya nempel banget sama Pasar Lembang, di Jalan HOS Cokroaminoto, Ciledug. Jadi, selain jadi tempat naik bus, lokasi ini juga ramai banget dengan aktivitas jual beli. Buat warga lokal, ini ibarat sekali dayung dua tiga pulau terlampaui—belanja sayur bisa, pulang kampung juga bisa langsung dari sini.
Akses ke terminal ini gampang banget. Mau naik angkot? Banyak. Ojek online? Siap antar. Bahkan Transjakarta juga lewat rute terdekat. Lokasinya memang pas banget di tengah-tengah denyut nadi kota.
Fasilitas: Sederhana, Tapi Nggak Mengecewakan
Jangan bayangkan terminal ini punya lounge AC atau ruang tunggu empuk ya. Tapi untuk ukuran terminal kelas menengah, fasilitas di sini cukup buat menunjang kenyamanan penumpang. Di antaranya:
Ruang tunggu sederhana, biasanya kursi plastik panjang yang cukup buat nunggu bus sambil ngemil.
Loket-loket tiket dari PO lokal dan antarpulau, biasanya buka dari pagi sampai malam.
Toilet umum, walau seadanya tapi cukup bersih kalau lagi nggak antre panjang.
Warung makan & kios jajanan yang berseliweran di sekitar pasar, cocok buat isi perut sebelum naik bus.
Tempat parkir motor dan mobil, meski nggak terlalu luas tapi aman.
Dan satu hal yang bikin suasana di sini beda: kehidupan pasar yang dinamis bikin terminal ini nggak pernah sepi. Kamu bisa nunggu bus sambil jajan gorengan panas atau ngopi di warung sembari dengerin pedagang sayur teriak-teriak nawarin dagangan. Suasananya hidup!
Rute dan PO: Dari Jawa Sampai Sumatra, Semua Bisa
Meski terminalnya nggak gede, tapi rute yang dilayani cukup luas, lho. Dari sini kamu bisa naik bus AKAP ke berbagai kota di Jawa dan Sumatra. Berikut rute favorit dan PO yang biasa mangkal di sini:
Rute Populer:
Arah Barat: Merak, Cilegon, Serang, Bandar Lampung, Palembang, Padang.
Arah Timur dan Tengah: Purwokerto, Cilacap, Yogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Malang.
PO yang Sering Kelihatan di Sini:
PO ALS (Antar Lintas Sumatera) – jagoan rute jauh ke Sumatra.
PO NPM – favorit perantau asal Minang.
PO Sinar Jaya dan Murni Jaya – langganan rute Jawa Tengah dan Timur.
PO Handoyo dan Lorena – siap antar sampai ke kota-kota besar Jawa.
Jenis busnya juga bervariasi. Mulai dari Ekonomi AC, Bisnis AC, sampai Eksekutif yang nyaman buat perjalanan jauh. Tapi kebanyakan memang kelas menengah yang harganya ramah kantong. Cocok buat para pekerja, mahasiswa, dan perantau.
Tiket
Walau sekarang zamannya digital, banyak orang yang masih beli tiket langsung alias go show. Apalagi buat yang dadakan berangkatnya. Tapi jangan khawatir, beberapa PO juga udah support pembelian online lewat Traveloka, RedBus, atau aplikasi masing-masing PO. Jadi tinggal pilih aja, mau gaya lama atau gaya kekinian.
Harga tiket dari sini juga tergolong standar. Misalnya:
Ciledug – Yogyakarta: mulai Rp150.000 – Rp220.000 tergantung kelas.
Ciledug – Lampung: sekitar Rp100.000 – Rp160.000.
Ciledug – Padang: bisa di atas Rp400.000 untuk kelas eksekutif.
Kondisi Terminal Memprihatinkan

Bangunan Tua, Cat Pudar, Atap Bocor
Masuk ke kawasan terminal, yang langsung terasa adalah kesan lusuh. Cat dinding yang udah pudar, beberapa bagian bangunan yang mulai retak, dan atap yang katanya bocor tiap musim hujan. Nggak jarang penumpang harus pindah duduk karena tempat nunggu tergenang air.
- Genangan: Setelah hujan, terminal sering tergenang dan penuh kubangan.
- Kerusakan Jalan: Jalan di terminal sudah rusak parah selama 10 tahun dan belum ada perbaikan.
Ruang tunggunya juga seadanya. Bangku plastik panjang yang mulai rapuh, kadang bahkan rusak dan dibiarkan begitu saja. Kalau hujan deras, genangan air di lantai bikin suasana makin tidak nyaman. Udah gitu, penerangan di malam hari juga minim. Ngeri-ngeri sedap kalau harus nunggu bus di jam sepi.
Toilet Kurang Layak, Kebersihan Terabaikan
Masalah klasik terminal di Indonesia: toilet. Di Terminal Bus AKAP Pasar Lembang, fasilitas ini seolah cuma formalitas. Air sering mati, aroma kurang sedap tercium dari jauh, dan kebersihannya sangat memprihatinkan. Beberapa pengunjung bahkan lebih memilih “numpang” ke toilet pasar atau warung terdekat.
Padahal toilet itu salah satu fasilitas paling dasar yang seharusnya diperhatikan. Apalagi buat terminal yang melayani rute jarak jauh—penumpang pasti butuh tempat nyaman sebelum atau sesudah perjalanan panjang.
baca juga : Terminal Kalideres
Parkiran Semrawut, Lalu Lintas Macet
Karena lokasinya mepet pasar dan area permukiman, sirkulasi kendaraan di dalam terminal kerap kacau. Bus-bus besar harus bermanuver di ruang yang sempit, kadang harus parkir di pinggir jalan karena area dalam penuh. Belum lagi mobil pribadi dan motor yang parkir sembarangan.
Kemacetan di sekitar terminal jadi pemandangan sehari-hari. Jalanan di depan terminal sering padat merayap, apalagi di pagi hari dan sore menjelang malam. Ini bukan cuma bikin penumpang telat, tapi juga rawan kecelakaan kecil.
Minim Petugas, Keamanan Kurang Terjaga
Keamanan juga jadi persoalan. Nggak ada sistem kontrol atau penjagaan yang jelas. Petugas terminal sangat minim, dan keberadaan satpam nyaris tak terlihat. Di malam hari, beberapa titik di terminal jadi gelap dan sepi—rawan buat penumpang, apalagi perempuan atau lansia.
Di sisi lain, banyak calo liar yang berkeliaran bebas. Mereka menawarkan tiket secara agresif, dan kadang membingungkan penumpang yang belum pernah naik dari sini. Beberapa bahkan menarik tarif lebih mahal dari harga resmi.
Tidak Ramah Digital dan Minim Informasi
Di zaman digital seperti sekarang, orang sudah terbiasa cek jadwal dan beli tiket via online. Tapi di Terminal Pasar Lembang, informasi soal rute dan jadwal bus masih sangat minim. Tidak ada papan informasi digital, tidak ada aplikasi resmi, bahkan petunjuk arah pun jarang terlihat jelas.
Penumpang yang baru pertama kali ke sini bisa bingung harus naik PO apa, di mana tempat nunggu, dan kapan keberangkatan. Akibatnya, banyak yang akhirnya bergantung ke calo atau bertanya-tanya ke sopir dan pedagang sekitar.

Tantangan: Ruang Sempit dan Lalu Lintas Padat
Yap, namanya juga terminal yang tumbuh di tengah kawasan padat, pasti ada tantangan. Salah satunya: ruang terbatas buat manuver bus besar. Apalagi kalau jam sibuk pagi dan sore, lalu lintas di sekitar pasar bisa macet parah. Kadang bus harus parkir agak jauh dulu, baru masuk terminal pas udah waktunya berangkat.
Manajemen jalur keluar-masuk bus juga belum seideal terminal besar. Tapi sopir-sopir di sini udah terlatih ngatur situasi. Walau sempit, tapi semua tetap jalan.
Harapan ke Depan: Perlu Perhatian Serius
Masyarakat sih berharap pemerintah setempat bisa lebih memperhatikan terminal ini. Minimal diberi sentuhan perbaikan:
Tambah ruang tunggu yang nyaman.
Atur sirkulasi bus biar lebih lancar.
Digitalisasi sistem jadwal dan tiket.
Dan tentu, revitalisasi kawasan pasar agar makin bersih dan tertata.
Kalau dibenahi, Terminal Pasar Lembang bisa jadi model terminal rakyat yang efisien, nggak harus besar tapi tetap ngasih layanan maksimal buat masyarakat.
Penutup
Terminal Bus AKAP Pasar Lembang mungkin nggak muncul di brosur pariwisata atau jadi ikon kota. Tapi buat ribuan orang setiap harinya, terminal ini adalah gerbang—menuju kampung halaman, tempat kerja, atau petualangan baru. Terminal ini hidup dari interaksi sehari-hari, dari tukang gorengan sampai sopir bus jarak jauh.
Jadi, kalau kamu butuh terminal yang “dekat secara fisik dan emosional”, tempat ini bisa jadi pilihan. Nggak mewah, tapi ngangenin.






